Sabtu, 18 Mei 2013

Tentang Kita...


Aku masih ingat saat pertama kali kita berkenalan. Masih ingat saat pertama kali wall climbing. Masih ingat saat mention iseng itu. Saat pelantikan. Dan sederet kejadian antara kita. Sampai suatu ketika ungkapan perasaan itu terkuak diantara kita.

Dan pada akhirnya....

Perasaan tidak bisa dipaksakan. Tapi aku harus melepasmu. Sama saja dengan memaksa perasaanku untuk melupakanmu. Bukan. Untuk menghapus semua rasa yang sudah tercipta di lubuk hati ku. Berat memang. Sangat. Tapi aku lebih mementingkan perasaanmu. Kamu yang maunya seperti itu. Aku berusaha untuk mewujudkannya. Meski sakit yang terasa.


Entah. Ketika pesan singkatmu yang berisikan tentang hal itu muncul di display hp ku, hatiku tercabik. Sakit. Perih. Tak kuat menahan tangis. Butuh waktu untuk menenangkan diri. Seketika, semua kenangan muncul ke permukaan. Membuat suasana hati lebih kacau.

Entah. Kenapa bisa begitu. Aku sendiri bingung. Mungkin karena rasa takut kehilangan yang mendalam. Entah. Seketika, langit malam yang bertabur bintang ini tak sanggup membuatku lebih baik. Yang sebelumnya cukup menenangkan hati. Seakan ikut menangis.

Hampir setengah jam aku menenangkan diri. Tapi tak bisa. Pikiranku berkeliaran. Tapi masih sempat untuk membalas pesanmu. Dan saat itu juga aku merasakan dingin yang cukup membuatku menggigil. Tangan. Kaki. Hati. Aku tak bisa berfikir jernih. Seluruh kenangan itu menyelimuti pikiranku. Tiba-tiba ulu hatiku sakit. Mual. Aku tau ada yang salah dengan kesehatanku. Tapi kenapa harus tiba-tiba? Bersamaan dengan ini semua?

Setengah satu. Menginjak dini hari. Aku tidak bisa tidur. Pikiranku dipenuhi oleh dirimu. Aku takut. Takut jika kamu menjauh. Takut jika semua tak bisa seperti dulu. Rindu itu datang lagi. Rindu akan semua hal yang pernah kita lakukan bersama.

Aku bertanya-tanya. Apa aku bisa mendapat keisenganmu lagi? Apa aku bisa mendapat canda dan tawamu lagi? Apa aku bisa mendapat pelukan yang tiba-tiba dari belakang? Apa aku bisa mendapat rangkulan itu lagi? Apa aku bisa mendapat belaian itu lagi? Apa aku bisa mendapat kecupan di kening dan di pipi ku lagi? Apa aku bisa dapat cubitan kamu lagi? Dan masih banyak pertanyaan lain. Setelah semua ini? Setelah kepergianmu?  Apa bisa seperti dulu?

Mustahil. Mungkin. Tapi inilah kehidupan. Aku harus melewati semuanya. Meski berat. Meski menyakitkan. Mungkin pada awalnya aku tidak bisamelupakan semua kisah kita. Bukan melupakan. Membuang perasaanku padamu mungkin jauh lebih tepat. Jadi aku harus menunggu luka hati ini kering sebelum aku benar-benar bisa menjalani kehidupanku dengan normal. Bukan normal. Setidaknya kembali setelah perasaanku netral.

Terimakasih. Atas semuanya. Atas semua warna yang sempat kamu torehkan dalam hidupku. Atas semua bahagia, canda, tawa, serta luka yang mendalam. Hanya menunggu waktu agar luka ini mengering. Menunggu agar warna yang kamu torehkan memudar dengan sendirinya. Meninggalkan semua kenangan tanpa ada lagi perasaan padamu.

Sayang. Sudah pasti. Aku menyayangimu. Sekarang lebih dari sekedar teman. Lebih dari sekedar kakak. Tapi aku berharap nanti, pada waktunya, rasa sayang ku padamu berkurang. Agar tidak lagi merasakan perih karena luka yang kamu goreskan.

Terimakasih. Karena aku bisa mengenalmu. Karena aku bisa dekat denganmu. Dan aku berharap, kamu tetap bisa dekat denganku. Bisa menjadi seorang kakak, teman, dan seorang yang bisa mengerti keadaanku. Menjadi tempatku membagi cerita. Hanya harapan. Yang belum tentu menjadi nyata.

Terimakasih kakak :') Maaf. Jika aku selalu merepotkan kakak. Selalu menyusahkan. Aku sayang sama kakak..


Dari adikmu yang ditulis dengan segenap perasaan....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar