Aku masih ingat saat pertama
kali kita berkenalan. Masih ingat saat pertama kali wall climbing. Masih ingat
saat mention iseng itu. Saat pelantikan. Dan sederet kejadian antara kita.
Sampai suatu ketika ungkapan perasaan itu terkuak diantara kita.
Dan pada akhirnya....
Perasaan tidak bisa
dipaksakan. Tapi aku harus melepasmu. Sama saja dengan memaksa perasaanku untuk
melupakanmu. Bukan. Untuk menghapus semua rasa yang sudah tercipta di lubuk
hati ku. Berat memang. Sangat. Tapi aku lebih mementingkan perasaanmu. Kamu
yang maunya seperti itu. Aku berusaha untuk mewujudkannya. Meski sakit yang
terasa.
Entah. Ketika pesan
singkatmu yang berisikan tentang hal itu muncul di display hp ku, hatiku
tercabik. Sakit. Perih. Tak kuat menahan tangis. Butuh waktu untuk menenangkan
diri. Seketika, semua kenangan muncul ke permukaan. Membuat suasana hati lebih
kacau.
Entah. Kenapa bisa begitu.
Aku sendiri bingung. Mungkin karena rasa takut kehilangan yang mendalam. Entah.
Seketika, langit malam yang bertabur bintang ini tak sanggup membuatku lebih
baik. Yang sebelumnya cukup menenangkan hati. Seakan ikut menangis.
Hampir setengah jam aku
menenangkan diri. Tapi tak bisa. Pikiranku berkeliaran. Tapi masih sempat untuk
membalas pesanmu. Dan saat itu juga aku merasakan dingin yang cukup membuatku
menggigil. Tangan. Kaki. Hati. Aku tak bisa berfikir jernih. Seluruh kenangan
itu menyelimuti pikiranku. Tiba-tiba ulu hatiku sakit. Mual. Aku tau ada yang
salah dengan kesehatanku. Tapi kenapa harus tiba-tiba? Bersamaan dengan ini
semua?
Setengah satu. Menginjak
dini hari. Aku tidak bisa tidur. Pikiranku dipenuhi oleh dirimu. Aku takut.
Takut jika kamu menjauh. Takut jika semua tak bisa seperti dulu. Rindu itu
datang lagi. Rindu akan semua hal yang pernah kita lakukan bersama.
Aku bertanya-tanya. Apa aku
bisa mendapat keisenganmu lagi? Apa aku bisa mendapat canda dan tawamu lagi?
Apa aku bisa mendapat pelukan yang tiba-tiba dari belakang? Apa aku bisa
mendapat rangkulan itu lagi? Apa aku bisa mendapat belaian itu lagi? Apa aku
bisa mendapat kecupan di kening dan di pipi ku lagi? Apa aku bisa dapat cubitan
kamu lagi? Dan masih banyak pertanyaan lain. Setelah semua ini? Setelah kepergianmu? Apa bisa seperti dulu?
Mustahil. Mungkin. Tapi inilah
kehidupan. Aku harus melewati semuanya. Meski berat. Meski menyakitkan. Mungkin
pada awalnya aku tidak bisamelupakan semua kisah kita. Bukan melupakan.
Membuang perasaanku padamu mungkin jauh lebih tepat. Jadi aku harus menunggu
luka hati ini kering sebelum aku benar-benar bisa menjalani kehidupanku dengan
normal. Bukan normal. Setidaknya kembali setelah perasaanku netral.
Terimakasih. Atas semuanya. Atas
semua warna yang sempat kamu torehkan dalam hidupku. Atas semua bahagia, canda,
tawa, serta luka yang mendalam. Hanya menunggu waktu agar luka ini mengering.
Menunggu agar warna yang kamu torehkan memudar dengan sendirinya. Meninggalkan
semua kenangan tanpa ada lagi perasaan padamu.
Sayang. Sudah pasti. Aku
menyayangimu. Sekarang lebih dari sekedar teman. Lebih dari sekedar kakak. Tapi
aku berharap nanti, pada waktunya, rasa sayang ku padamu berkurang. Agar tidak
lagi merasakan perih karena luka yang kamu goreskan.
Terimakasih. Karena aku bisa
mengenalmu. Karena aku bisa dekat denganmu. Dan aku berharap, kamu tetap bisa
dekat denganku. Bisa menjadi seorang kakak, teman, dan seorang yang bisa mengerti
keadaanku. Menjadi tempatku membagi cerita. Hanya harapan. Yang belum tentu
menjadi nyata.
Terimakasih kakak :') Maaf.
Jika aku selalu merepotkan kakak. Selalu menyusahkan. Aku sayang sama kakak..
Dari
adikmu yang ditulis dengan segenap perasaan....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar