Entahlah. Pikiranku melayang
ke masa lalu. Layaknya mesin waktu yang menapak tilas kisah kita. Semua begitu
jelas terbayang di dalam benakku. Canda tawa yang kita lalui. Suka duka yang
kita hadapi. Semua terekam jelas. Dari yang hanya sekadar sms menanyakan jadwal
latihan DSB sampai detik ini.
Ingat tidak, saat itu? Saat
pertama kali DSB 13 dan 14 rapling bersama pada hari Jum’at. Disana lah kita
pertama kali bertemu secara langsung. Yang sebelumnya hanya sms meminta informasi
mengenai jadwal latihan. Keesokannya juga latihan gabungan dengan Ekstanba di
Juanda. Sayangnya kamu pulang terlebih dahulu.
Ingat ketika DSB 13 dan 14
berkumpul? Ingat ketika detik-detik menjelang pelantikan angkatan 14? Saat
gencar-gencarnya mengejar materi yang akan diujikan. Simpul. Salah satunya.
Teringat Kamis itu. Saat angkatanku harus mempunyai mentor angkatan 13. Dan
mentor ku itu adalah kamu. Di hari yang lain, angkatan 14 berkumpul di dekat
sekret. Dan dari angkatanmu hanya sedikit yang datang. Salah satunya kamu. Jika
salah membuat simpul mendapat hukuman 1 seri. Dan kalau tidak salah setelah itu
kita berdua mention-mentionan di twitter, padahal kita duduk berhadapan.
Masih ingat ketika wall
climbing pertama kali? Kamu yang mencarikan pinjaman helm untukku. Dan kita
berangkat bersama beriringan dengan yang lain. Pulangnya? Kau mengantarku
sampai rumah. Meski tadinya sempat menunggu di depan pom bensin karena suatu
hal.
Ingat tidak saat pelantikan
DSB 14? Di hari ke dua saat akan ke suatu tempat karena mata kita, angkatan 14,
ditutup. Saat aku tahu bahwa kamu yang memboncengiku, entah, ada sedikit rasa
lega.
Dan sederet kisah lainnya
yang pada akhirnya kita berdua menjauh. Entahlah.
Tapi. Sejak mengurus pelantikan
DSB angkatan 15, kita mulai dekat kembali. Ingat tidak, saat kamu memberi
permainan? Ketika berkumpul bersama. Saat kamu memberi pertanyaan yang mengasah
otak. Gambar-gambar di lantai, gratis seribu - seribu gratis, tebak warna. Ah.
Begitu menyenangkan saat itu. Duduk di sampingmu. Sampai akhirnya ketika mulai
sepi, kamu mengambil tangan kiriku dan membersihkan coretan pulpen yang ada
disana. Tidak lama. Karena aku segera menarik tanganku. Takut ketahuan bersemu
merah karena rasa yang tidak karuan ini.
Ingat kejadian saat pelantikan
DSB angkatan 15? Dari di tronton. Saat kamu membantuku naik dan turun jalur
pendakian yang licin dengan memegang tanganku. Hampir setiap saat. Entahlah.
Aku merasa cukup terbantu. Sangat. Ingat saat kamu menyuapiku agar asin maupun
manis? Saat mengejar bang Iyes dengan membawa minyak kayu putih di tanjakan
itu. Ah. Suatu hal yang tidak terlupakan bagiku. Saat makan yang kita makan
berdua. Saat pulang. Saat mengobrol seru di sekolah. Saat makan malam di CR.
Saat cerita kejadian mistis. Dan banyak hal yang kita lakukan. Kamu sempat
meminta nomor hp ku sebelum ke CR. Dan setelah aku sampai rumah, tidak lama
kemudian kamu sudah mengirim sms itu.
Sejak saat itu, kita menjadi
semakin dekat. Entahlah. Ada sesuatu yang membuatku senang. Sebuah perasaan
nyaman saat bersamamu. Dan aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Dan memang,
bukankah sebuah perasaan itu tidak butuh penjelasan?
Ingat tidak, saat malam
tahun baru, kita masih berkomunikasi. Kamu menanyakan kegiatan akhir tahunku. Kamu
juga sempat memintaku untuk mengabarimu kalu aku ingin pulang. Dan benar saja,
sekitar jam 1 dini hari menjemputku di tempat aku berada saat itu dan
mengantarku pulang. Padahal sebenarnya kamu sendiri juga ada acara kan? Terimakasih
karena sudah mau mengantarku pulang, meski pada akhirnya kamu kembali ke acara
mu itu. Setelah itu pun, kita tidak langsung tidur. Kita masih sms-an sampai
aku tertidur sekitar jam 4.
Hari demi hari kita lalui
bersama, meski hanya sekadar sms. Meski hanya sapa ringan di sekolah. Tapi,
semua itu membuat perasaanku padamu melebihi apa yang ku duga sebelumnya.
Kita semakin dekat. Mention
di twitter. Candaan di sekolah meski hanya berpapasan. Masih terbayang saat aku
menyirammu dengan minyak kayu putih. Terbayang pula saat kamu mengacak-acak
rambutku. Dan hari Sabtu itu. Saat kamu mengacak-acak rambutku karena maag ku
yang kambuh ketahuan oleh mu. Tapi aku merasakan perbedaan disana. Kamu bukan
mengacak-acak rambutku. Aku merasakan sentuhanmu itu berbeda. Jauh lebih
lembut. Dan yang setelah itu. Kamu menarik tanganku dan memaksaku untuk makan.
Komunikasi itu terus
berlanjut. Sampai waktu anak-anak ingin mengerjai Arif, Ira, dan kak Gatot yang
ulang tahun dan dikerjai bersama pada hari Kamis. Apa kamu masih ingat momen
itu? Ya. Penuh dengan akting. Tapi dibalik itu semua, kita asik sendiri. Aku
ingat saat kamu menyuapi potongan coklat itu.
Ingat saat kamu ikut
mengerjai yang lain. Saat kamu mengerjai aku. Krim yang kamu tumpahkan ke
wajahku. Saat kita berkejaran. Saat kamu menahan ku dengan menggenggam
pergelangan tangan ku di dekat kelasku karena aku ingin membalasmu. Dan saat
aku terjatuh saat kamu kembali mengejarku ke arah lab komputer. Yang pada
akhirnya kamu terkena krim kue juga olehku.
Ingat saat sudah ingin
bubar? Kamu menungguku untuk pulang bersama. Padahal, aku lama saat itu. Masih
menemani Ira untuk mencari hp nya yang ternyata disembunyikan Arum. Dan saat
aku menuju pagar, aku melihatmu duduk menungguku. Meski sedikit dikerjai olehmu,
akhirnya kamu mengantarku pulang.
Masih ingatkah kamu saat
kamu menanyakan keadaanku karena tweet ku itu? Di malam sebelum wall climbing.
Aku memang butuh sendirian saat itu. Perasaanku kacau. Dan setelah agak tenang,
aku baru melihat twitter lagi. Aku stalk akun mu. Dan. Ah. Kamu itu tau saja.
Ya begitulah. Entah.
Komunikasi itu terus
berlanjut. Ingatkah kamu Sabtu itu? Dimana kamu mengajari kimia. Yang meski tak
banyak karena terhalang hujan dan kau mengantarku ke sekolah dari griya? Jaket
ku basah karenanya. Dan jaketmu kamu berikan padaku. Padahal kamu sendiri
kedinginan. Terimakasih, kak.
Entahlah. Dari semua
kejadian yang aku alami bersamamu, membuat perasaan aneh ini semakin tumbuh. Aku
sendiri awalnya hanya mengabaikan. Takut jika hanya harapan yang berlebih dan
aku terjatuh dalam luka yang pernah aku alami sebelumnya. Tapi, perasaan ini
tidak tertahankan. Aku hanya membiarkan mengalir pada akhirnya. Biarkan waktu
yang akan menjawab semuanya.
Hmm. Masih ingatkah kamu saat
pameran internasional itu? 16 Februari 2013. Ya. Aku sengaja menghindar darimu.
Karena suatu alasan tentunya. Karena aku tidak ingin berharap lebih padamu. Tapi
tentu saja itu juga karena aku mengikuti teman-temanku. Yang secara tidak
langsung kita tidak mengunjungi stand kelasmu. Dan malam harinya, kamu pun
mengirim pesan singkat. Yang berujung kita saling sms-an.
Kita terus berkomunikasi. Bercanda
dan membicarakan apa saja. Sampai pada Kamis itu. 21 Februari 2013. Dimana aku
menunjukkan sketch book untuk menunjukkan gambar proyeksi yang menurut
teman-temanku itu susah. Dan memang kamu yang menginginkannya. Kita mengobrol
bersama di depan ruang TRRC saat istirahat ke dua. Cukup lama kita mengobrol. Tak
hanya itu. Kamu juga sempat menjahiliku. Sampai akhirnya kita berpisah karena
belum sholat dan sebentar lagi masuk jam pelajaran. Tak habis sampai disitu.
Kita tetap berkirim pesan singkat. Sampai akhirnya kamu menjemput dan mengantarku
pulang sekitar jam 5an.
Saat kamu menjemputku, di
depan gerbang banyak teman-temanku yang juga anak perkusi. Ketika mereka tau
kamu yang menjemputku, mereka "terbatuk-batuk" sambil mengusik. Tapi
aku hanya bisa tersenyum.
Tidak lama setelah aku
sampai rumah, ada pesan singkat darimu. Display hp ku menunjukkan 18.40 di
tanggal 21 Februari 2013. Awalnya aku ragu untuk membukanya. Jantung ini
berdegup lebih cepat dari biasanya. Takut. Entahlah. Tapi itu yang ku rasakan
saat itu.
Akhirnya aku membuka pesan
singkat itu. Dan benar saja. Aku tersentak membacanya. Antara bingung, tidak
percaya, takut, senang, dan beribu rasa lainnya menggelayuti hati.
"dek,
gue sayang sama lu"
Itu yang tertulis. Aku hanya
berbasa-basi membalas pesanmu karena takut akan kemungkinan yang terjadi. Dan
akhirnya kita sepakat, keesokan harinya akan membicarakannya lebih lanjut.
22 Februari 2013
Istirahat pertama, kita
sudah sms-an. Menentukan dan mencari waktu yang tepat. Dan pada akhirnya
sekitar setengah 2 siang di dekat sekret kita bertemu. Membicarakan hal yang
kemarin. Jujur, aku gugup. Entahlah. Sampai akhirnya, kamu menganggap
perbincangan ini selesai. Kamu meninggalkanku. Dan saat itu pula aku langsung
menangis. Sesak. Aku membohongi diri sendiri. Perasaanku harus jujur. Dan aku
memberanikan diri untuk mengirim pesan singkat itu. Meminta maaf. Dan setelah
aku jelaskan dan ungkapkan semua padamu bahwa aku memiliki rasa yang sama
padamu. Aku sayang kamu. Tapi aku tidak mengungkapkan bahwa aku juga suka dan
nyaman sama kamu. Hhh.
Setelah itu, kamu menawari
untuk mencoba pacaran. Awalnya aku bingung. Tapi akhirnya aku mau. Entah atas
dasar apa. Kali ini aku benar-benar tidak bisa menjalaskan perasaanku yang
sesungguhnya. Lebih tepatnya, alasan kenapa aku memiliki perasaan yang begitu
rumit dijelaskan.
Dan kisah kita pun terus
berlanjut...
27 Februari 2013. Kamu sedang
try out saat itu. Tapi, kita masih bisa bertemu setelah kamu selesai. Bertepatan
dengan istirahat ke dua, kita mengobrol di depan X3. Ingat? Dan setelah itu,
kita semakin dekat. Entahlah.
Sudah sebulan kita lewati. Ingat
tidak? Saat Selasa itu? 26 Maret 2013. Sore itu, saat aku belum pulang karena
kerja kelompok. Dan ketika yang lainnya sudah pulang. Kamu masih menemaniku. Bercanda
dan mengobrol. Rencana melihat indahnya senja yang hanya wacana. Mengingat sebenarnya
aku kurang enak badan saat itu. Ingat tidak? Kita masih bercanda di depan XI
IPA 3? Membicarakan apapun. Dan yang terngiang sampai saat ini, adalah obrolan
tentang sakitnya cinta. Entahlah. Mungkin karena aku mengalaminya lagi.
Keesokan harinya, aku jatuh
sakit. Entahlah. Dari hari sebelumnya memang aku paksa kesehatanku. Tak disangka
akan drop secepat ini. Terimakasih. Saat itu kamu mau menjagaku dan menjenguk
di uks. Saat pulang sekolah, aku sudah merasa baikan. Aku masih sempat menemani
temanku ke fotokopian. Tapi tetap saja, saat aku ingin pulang, lebih tepatnya
les, kamu menjemputku. Aku tidak bisa mengelak lagi setelah kamu tiba-tiba
memegang keningku. Sebenarnya, aku masih bisa memaksanya. Meski sedikit pusing
yang ku rasa. Tapi kamu akhirnya mengantarku pulang ke rumah. Ingat?
Saat-saat aku bermain ke
kelasmu? Apa masih ingat? Segala kejadian yang bagiku masih berkesan. Tidak tau
bagimu bagaimana. Ingat? Saat kamu merangkulku sebelum berkeliling bersama
teman-temanmu? Biarlah. Mungkin kamu sudah lupa.
Saat pertama kali kamu
memberi gelangmu. Kamis. 11 April 2013. Masih ingat? Saat di sekret. Saat kamu
memberitahu masalah temanmu itu. Valerie. Yang pada akhirnya, di pembicaraan
yang lain dan kamu keluar dari sekret, aku sempat menangis karena aku tidak mau
kehilangan kamu. Entahlah. Aku takut. Pulangnya? Di perjalanan, kita masih
membicarakan hal yang sebenarnya tingkat keseriusan pembicaraan itu menyangkut
hati dan masa depannya. Ingat? Saat kamu berjanji tidak akan mencari perempuan
lain saat di perkuliahan nanti. Ah. Hanya janji yang tidak akan pernah
ditepati. Perasaan seseorang tidak ada yang tau pasti kan? Apalagi perasaan
orang lain. Untuk masa depan apalagi. Tidak bisa di tebak. Belum tentu juga
bisa bertahan. Janji hanyalah janji...
Saat mempersiapkan pendakian
gn. Lawu. Sabtu itu di rumah Rani. Masih ingat? Aku yang mencium dengan mencuri
saat kamu tidak sadar. Ah. Sudahlah. Teringat kembali saat kamu memangku ku
ketika bang Syahril ke sekolah.
14-18 April 2013. Pendakian Lawu
yang membuat komunikasi kita tersendat. Kamu juga sedang UN saat itu. Doa tercurah
untukmu. Pendakian itu penuh dengan kenanganku bersama yang lainnya.
Ingat saat aku sampai Depok
lagi? Hari Jum’at, 19 April 2013. Senang sudah bisa mengabarimu lagi. Dan
sekitar jam 3an. Kamu menculikku ke Tirta. Main bulutangkis. Meski aku hanya
duduk menunggumu di pinggir lapangan. Karena kakiku yang masih sakit karena
pendakian itu. Di tengah kamu bermain, kita menukar gelang. Ingat? Dan saat
pulang, kau merangkulku. Entahlah. Aku merasa seperti pelantikan. Menjadi anak
kecil yang sering terjatuh.
Ingat saat aku ulang tahun? Kamu
diam. Entah. Aku sudah menduga, itu hanya ulahmu menjahiliku. Tapi kamu aktor
yang hebat. Bermain sandiwara beberapa hari untuk mengerjaiku. Tidak lama. Tapi
bagiku, sandiwaramu berhasil.
27 April 2013. Giliran anak
DSB yang mengerjaiku. Mereka bilang, kamu kecelakaan. Entahlah. Aku yang
tadinya di kurung di sekret dan memanjatnya, selelah mendengarnya langsung
terjatuh. Dan memang, setelah itu siram-siraman di rumah Arum yang Arum sendiri
hanya beda sehari dari ulang tahunku. Terimakasih buat anak DSB yang lain. Khususya
buat boneka yang udah dikadoin.
Besok paginya, anak DSB
mengisi pembukaan acara paskib. Dan sekitar jam 2an kamu datang ke sekolah. Hanya
mengobrol sebentar. Dan. Foto kita berdua yang di Syafiq? Entahlah. Tidak tau
masih ada atau tidak di anak itu. Dan habis itu, kau mengajaku yang ujungnya
kita ke tempat les mu. Ah. Masa-masa itu. Sudahlah.
Ingat? Saat aku kembali ke
uks? Senin. Entahlah. Tanganku dingin. Memang sebenarnya salahku. Memaksa kesehatan
yang sebenarnya demi mengerjakan tugas. Sampai larut malam. Bahkan sampai tidak
tidur. Sekembalinya ke kelas, sudah bisa tertebak siapa yang memasukkan boneka
kecil itu. Tapi, yasudahlah.
Taukah kamu. Saat-saat kamu
sudah tidak ke sekolah itu, aku merindukanmu. Hampir setiap hari, aku ingin
bertemu. Ingat saat hari kamis di minggu yang sama setelah pemberian boneka
itu? Kamu ke sekolah. Sayang. Aku latihan drama dadakan untuk ke esokan
harinya. Jadi tidak banyak waktu untuk bertemu denganmu.
Jum’at setelah drama
selesai. Akhirnya kita bisa bertemu. Mengobrol panjang lebar. Di sekolah. Yang setelah
itu dilanjutkan di griya. Kita masih bisa bercanda. Kecupan dan cubitanmu di
pipiku. Ah. Apa bisa aku mendapatkannya lagi? hanya harap yang tidak mungkin
jadi kenyataan. Besoknya, Sabtu. Saat aku mentraktirmu. Saat pelukan itu. Saat menjadi
adik kecil dan bermanja-manja denganmu. Ah. Hanya kenangan.
Selasa. Saat kamu mengajakku
ke griya lagi, saat canda tawa itu terbentuk. Saat masa-masa indah yang. Hhh. Berat
rasanya untuk melupakan itu semua. Jum’at, 10 Mei 2013. Aku latihan akustik. Pulangnya
aku menunggu hujan. Entahlah. Sendirian di tengah hujan seperti malam itu
membuat sesuatu yang beda. Aku tidak enak sebenarnya saat kamu menjemputku. Seperti
terpaksa untuk mengantarku pulang. Tapi entahlah.
Dan setelah hari itu. Aku merasa
sedikit menjauh darimu. Tidak ada kabar. Meski tidak lost contact dan masih
bisa mention-mentionan, itu tidak berlangsung lama. Sayang, hubungan ini kandas
di tengah jalan. 85 hari kita lalui bersama. Dan begitu banyak kenangan yang
telah kau lukis dalam hati ini. Kalau seandainya kita masih bertahan, tepat hari
ini, 22 Mei 2013, 3 bulan lamanya telah kita jalani. Tapi mau bagaimana lagi? Sudah begini
adanya. Semua hanya tinggal kenangan. Yang masih tersimpan dalam hati.
Di kemudian hari mungkin dan
pasti akan berbeda dengan sekarang. Dan janji yang sudah diberikan waktu itu
hanya sebatas janji. Yang tidak pernah menjadi nyata. Seiring berjalannya waktu
akan berubah dan merubah segalanya. Mungkin. Tidak ada yang pasti di dunia ini
kecuali ketidakpastian itu sendiri.
Tapi, sampai detik ini...
Kenyataannya. Aku masih
memiliki rasa itu. Rasa yang aku sendiri tidak tahu asalnya dan alasannya. Rasa
yang mungkin hanya aku yang memilikinya sekarang. Berat memang. Untuk melepasmu
sangatlah berat. Entah. Semua akan beda. Dan aku masih berusaha untuk
merelakanmu. Hubungan ini akan sedikit atau bahkan berbeda sama sekali dari
sebelumnya. Mengingat luka yang kamu ukir sangatlah sakit bagi hati ini.
Sampai detik ini aku mencoba
untuk membuang perasaan itu padamu. Meski kamu pernah berkata, masih kakak adek, mungkin hanya
sebentar. Mungkin akan berjalan lama. Entahlah. Tidak ada yang tau.
H-6 sebelum perpisahan. Jum’at,
24 Mei 2013. Aku sempat melepas penat bersama Indri dan kak Sito. Banyak
kutipan yang sebenarnya kena di hati.
“Kan
lo nggak tau jodoh lo siapa, jangan asal bilang bulan dan belom jodoh. Siapa tau,
dia yang bakal ngelamar lo”. “Kalo emang bener-bener sayang, nggak bakal
nyakitin. Biar dia yang sakit, asal pasangannya nggak sakit”.
Dan masih banyak rentetan
kata-kata lain yang, hmm. Ah. Biarlah. Malamnya. Sms itu pun muncul. Sms yang
isinya, kamu pengen ngulang dari tanggal
22 Februari karena kamu nggak mau kayak gini.
Entah apa yang ada di dalam
pikiranmu. Aku tidak tau. Sebenarnya aku ingin membicarakannya langsung. Apa sebenarnya
mau kamu, Kak? Kenapa kayak gini? Kenapa plin plan? Kenapa kamu ingin seperti
dulu kalo kamu yang memutuskan hubungan kita?
Aku akui. Aku juga ingin
sekali kembali ke masa itu bersamamu. Saat-saat bahagia, suka duka yang kita lalui
bersama. Tapi aku butuh waktu. Waktu untuk melupakan perasaanku padamu. Karena asal
kamu tau, sakit. Sakitnya luka yang kamu ukir di hatiku sangat perih.
Belum lagi temanku, yang
suka membahas tentangmu. Ah. Sulit. Hanif, yang suka membuatku menangis, dia
saja tau apa yang aku rasakan. Karena memang sedang bernasib sama. “Ngelupain orang yang kita sayang tuh berat,
Win. Susah banget malah”. Kata-kata yang selalu terngiang darinya. Memang benar.
Berat..
Sampai detik ini pun, aku
masih belum bisa lepas dari perasaanku padamu. Entah sampai kapan aku harus
berusaha. Sendirian. Mau aku perjuangkan perasaan ini sendirian? Sia-sia. Hanya
membuang-buang tenaga. Buat apa mempertahankan perasaan yang dijalani hanya
satu orang. Perasaan tak terbalas. Ah. Sama seperti dulu. Dan butuh setahun
lebih untuk melupakannya. Tidak tau seberapa lama aku bisa melupakan perasaanku
padamu. Dan bersikap seolah-olah tidak ada apapun diantara kita lagi.
Menyembuhkan luka di hati
itu akan lama. Dan setelah sembuh, belum tentu akan seperti sedia kala.
Dan aku hanya bisa berharap,
berusaha, dan berdoa, agar hubungan kita kedepannya membaik, Kak. Ukhwah itu
harus dijaga. Iya kan? Tidak terbatas jarak, ruang, dan waktu..
Dan kenangan yang sudah kita
buat, aku berharap bisa menambah lagi bersamamu. Dan semoga kita bisa menjaga
kenangan dan hubungan yang telah terbentuk selama ini, Kak...
Impian setelah air mata
Ku percaya tak kan kalah dari angin hujan
Sampai doa ku mencapai langit cerah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar