Minggu, 02 Juni 2013

Sebagian Kenangan Bersamamu..


Entahlah. Pikiranku melayang ke masa lalu. Layaknya mesin waktu yang menapak tilas kisah kita. Semua begitu jelas terbayang di dalam benakku. Canda tawa yang kita lalui. Suka duka yang kita hadapi. Semua terekam jelas. Dari yang hanya sekadar sms menanyakan jadwal latihan DSB sampai detik ini.

Ingat tidak, saat itu? Saat pertama kali DSB 13 dan 14 rapling bersama pada hari Jum’at. Disana lah kita pertama kali bertemu secara langsung. Yang sebelumnya hanya sms meminta informasi mengenai jadwal latihan. Keesokannya juga latihan gabungan dengan Ekstanba di Juanda. Sayangnya kamu pulang terlebih dahulu.

Ingat ketika DSB 13 dan 14 berkumpul? Ingat ketika detik-detik menjelang pelantikan angkatan 14? Saat gencar-gencarnya mengejar materi yang akan diujikan. Simpul. Salah satunya. Teringat Kamis itu. Saat angkatanku harus mempunyai mentor angkatan 13. Dan mentor ku itu adalah kamu. Di hari yang lain, angkatan 14 berkumpul di dekat sekret. Dan dari angkatanmu hanya sedikit yang datang. Salah satunya kamu. Jika salah membuat simpul mendapat hukuman 1 seri. Dan kalau tidak salah setelah itu kita berdua mention-mentionan di twitter, padahal kita duduk berhadapan.


Masih ingat ketika wall climbing pertama kali? Kamu yang mencarikan pinjaman helm untukku. Dan kita berangkat bersama beriringan dengan yang lain. Pulangnya? Kau mengantarku sampai rumah. Meski tadinya sempat menunggu di depan pom bensin karena suatu hal.

Ingat tidak saat pelantikan DSB 14? Di hari ke dua saat akan ke suatu tempat karena mata kita, angkatan 14, ditutup. Saat aku tahu bahwa kamu yang memboncengiku, entah, ada sedikit rasa lega.

Dan sederet kisah lainnya yang pada akhirnya kita berdua menjauh. Entahlah.

Tapi. Sejak mengurus pelantikan DSB angkatan 15, kita mulai dekat kembali. Ingat tidak, saat kamu memberi permainan? Ketika berkumpul bersama. Saat kamu memberi pertanyaan yang mengasah otak. Gambar-gambar di lantai, gratis seribu - seribu gratis, tebak warna. Ah. Begitu menyenangkan saat itu. Duduk di sampingmu. Sampai akhirnya ketika mulai sepi, kamu mengambil tangan kiriku dan membersihkan coretan pulpen yang ada disana. Tidak lama. Karena aku segera menarik tanganku. Takut ketahuan bersemu merah karena rasa yang tidak karuan ini.

Ingat kejadian saat pelantikan DSB angkatan 15? Dari di tronton. Saat kamu membantuku naik dan turun jalur pendakian yang licin dengan memegang tanganku. Hampir setiap saat. Entahlah. Aku merasa cukup terbantu. Sangat. Ingat saat kamu menyuapiku agar asin maupun manis? Saat mengejar bang Iyes dengan membawa minyak kayu putih di tanjakan itu. Ah. Suatu hal yang tidak terlupakan bagiku. Saat makan yang kita makan berdua. Saat pulang. Saat mengobrol seru di sekolah. Saat makan malam di CR. Saat cerita kejadian mistis. Dan banyak hal yang kita lakukan. Kamu sempat meminta nomor hp ku sebelum ke CR. Dan setelah aku sampai rumah, tidak lama kemudian kamu sudah mengirim sms itu.

Sejak saat itu, kita menjadi semakin dekat. Entahlah. Ada sesuatu yang membuatku senang. Sebuah perasaan nyaman saat bersamamu. Dan aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Dan memang, bukankah sebuah perasaan itu tidak butuh penjelasan?

Ingat tidak, saat malam tahun baru, kita masih berkomunikasi. Kamu menanyakan kegiatan akhir tahunku. Kamu juga sempat memintaku untuk mengabarimu kalu aku ingin pulang. Dan benar saja, sekitar jam 1 dini hari menjemputku di tempat aku berada saat itu dan mengantarku pulang. Padahal sebenarnya kamu sendiri juga ada acara kan? Terimakasih karena sudah mau mengantarku pulang, meski pada akhirnya kamu kembali ke acara mu itu. Setelah itu pun, kita tidak langsung tidur. Kita masih sms-an sampai aku tertidur sekitar jam 4.

Hari demi hari kita lalui bersama, meski hanya sekadar sms. Meski hanya sapa ringan di sekolah. Tapi, semua itu membuat perasaanku padamu melebihi apa yang ku duga sebelumnya.

Kita semakin dekat. Mention di twitter. Candaan di sekolah meski hanya berpapasan. Masih terbayang saat aku menyirammu dengan minyak kayu putih. Terbayang pula saat kamu mengacak-acak rambutku. Dan hari Sabtu itu. Saat kamu mengacak-acak rambutku karena maag ku yang kambuh ketahuan oleh mu. Tapi aku merasakan perbedaan disana. Kamu bukan mengacak-acak rambutku. Aku merasakan sentuhanmu itu berbeda. Jauh lebih lembut. Dan yang setelah itu. Kamu menarik tanganku dan memaksaku untuk makan.

Komunikasi itu terus berlanjut. Sampai waktu anak-anak ingin mengerjai Arif, Ira, dan kak Gatot yang ulang tahun dan dikerjai bersama pada hari Kamis. Apa kamu masih ingat momen itu? Ya. Penuh dengan akting. Tapi dibalik itu semua, kita asik sendiri. Aku ingat saat kamu menyuapi potongan coklat itu.

Ingat saat kamu ikut mengerjai yang lain. Saat kamu mengerjai aku. Krim yang kamu tumpahkan ke wajahku. Saat kita berkejaran. Saat kamu menahan ku dengan menggenggam pergelangan tangan ku di dekat kelasku karena aku ingin membalasmu. Dan saat aku terjatuh saat kamu kembali mengejarku ke arah lab komputer. Yang pada akhirnya kamu terkena krim kue juga olehku.

Ingat saat sudah ingin bubar? Kamu menungguku untuk pulang bersama. Padahal, aku lama saat itu. Masih menemani Ira untuk mencari hp nya yang ternyata disembunyikan Arum. Dan saat aku menuju pagar, aku melihatmu duduk menungguku. Meski sedikit dikerjai olehmu, akhirnya kamu mengantarku pulang.

Masih ingatkah kamu saat kamu menanyakan keadaanku karena tweet ku itu? Di malam sebelum wall climbing. Aku memang butuh sendirian saat itu. Perasaanku kacau. Dan setelah agak tenang, aku baru melihat twitter lagi. Aku stalk akun mu. Dan. Ah. Kamu itu tau saja. Ya begitulah. Entah.

Komunikasi itu terus berlanjut. Ingatkah kamu Sabtu itu? Dimana kamu mengajari kimia. Yang meski tak banyak karena terhalang hujan dan kau mengantarku ke sekolah dari griya? Jaket ku basah karenanya. Dan jaketmu kamu berikan padaku. Padahal kamu sendiri kedinginan. Terimakasih, kak.

Entahlah. Dari semua kejadian yang aku alami bersamamu, membuat perasaan aneh ini semakin tumbuh. Aku sendiri awalnya hanya mengabaikan. Takut jika hanya harapan yang berlebih dan aku terjatuh dalam luka yang pernah aku alami sebelumnya. Tapi, perasaan ini tidak tertahankan. Aku hanya membiarkan mengalir pada akhirnya. Biarkan waktu yang akan menjawab semuanya.

Hmm. Masih ingatkah kamu saat pameran internasional itu? 16 Februari 2013. Ya. Aku sengaja menghindar darimu. Karena suatu alasan tentunya. Karena aku tidak ingin berharap lebih padamu. Tapi tentu saja itu juga karena aku mengikuti teman-temanku. Yang secara tidak langsung kita tidak mengunjungi stand kelasmu. Dan malam harinya, kamu pun mengirim pesan singkat. Yang berujung kita saling sms-an.

Kita terus berkomunikasi. Bercanda dan membicarakan apa saja. Sampai pada Kamis itu. 21 Februari 2013. Dimana aku menunjukkan sketch book untuk menunjukkan gambar proyeksi yang menurut teman-temanku itu susah. Dan memang kamu yang menginginkannya. Kita mengobrol bersama di depan ruang TRRC saat istirahat ke dua. Cukup lama kita mengobrol. Tak hanya itu. Kamu juga sempat menjahiliku. Sampai akhirnya kita berpisah karena belum sholat dan sebentar lagi masuk jam pelajaran. Tak habis sampai disitu. Kita tetap berkirim pesan singkat. Sampai akhirnya kamu menjemput dan mengantarku pulang sekitar jam 5an.

Saat kamu menjemputku, di depan gerbang banyak teman-temanku yang juga anak perkusi. Ketika mereka tau kamu yang menjemputku, mereka "terbatuk-batuk" sambil mengusik. Tapi aku hanya bisa tersenyum.

Tidak lama setelah aku sampai rumah, ada pesan singkat darimu. Display hp ku menunjukkan 18.40 di tanggal 21 Februari 2013. Awalnya aku ragu untuk membukanya. Jantung ini berdegup lebih cepat dari biasanya. Takut. Entahlah. Tapi itu yang ku rasakan saat itu.

Akhirnya aku membuka pesan singkat itu. Dan benar saja. Aku tersentak membacanya. Antara bingung, tidak percaya, takut, senang, dan beribu rasa lainnya menggelayuti hati.

"dek, gue sayang sama lu"

Itu yang tertulis. Aku hanya berbasa-basi membalas pesanmu karena takut akan kemungkinan yang terjadi. Dan akhirnya kita sepakat, keesokan harinya akan membicarakannya lebih lanjut.

22 Februari 2013

Istirahat pertama, kita sudah sms-an. Menentukan dan mencari waktu yang tepat. Dan pada akhirnya sekitar setengah 2 siang di dekat sekret kita bertemu. Membicarakan hal yang kemarin. Jujur, aku gugup. Entahlah. Sampai akhirnya, kamu menganggap perbincangan ini selesai. Kamu meninggalkanku. Dan saat itu pula aku langsung menangis. Sesak. Aku membohongi diri sendiri. Perasaanku harus jujur. Dan aku memberanikan diri untuk mengirim pesan singkat itu. Meminta maaf. Dan setelah aku jelaskan dan ungkapkan semua padamu bahwa aku memiliki rasa yang sama padamu. Aku sayang kamu. Tapi aku tidak mengungkapkan bahwa aku juga suka dan nyaman sama kamu. Hhh.

Setelah itu, kamu menawari untuk mencoba pacaran. Awalnya aku bingung. Tapi akhirnya aku mau. Entah atas dasar apa. Kali ini aku benar-benar tidak bisa menjalaskan perasaanku yang sesungguhnya. Lebih tepatnya, alasan kenapa aku memiliki perasaan yang begitu rumit dijelaskan.

Dan kisah kita pun terus berlanjut...

27 Februari 2013. Kamu sedang try out saat itu. Tapi, kita masih bisa bertemu setelah kamu selesai. Bertepatan dengan istirahat ke dua, kita mengobrol di depan X3. Ingat? Dan setelah itu, kita semakin dekat. Entahlah.
Sudah sebulan kita lewati. Ingat tidak? Saat Selasa itu? 26 Maret 2013. Sore itu, saat aku belum pulang karena kerja kelompok. Dan ketika yang lainnya sudah pulang. Kamu masih menemaniku. Bercanda dan mengobrol. Rencana melihat indahnya senja yang hanya wacana. Mengingat sebenarnya aku kurang enak badan saat itu. Ingat tidak? Kita masih bercanda di depan XI IPA 3? Membicarakan apapun. Dan yang terngiang sampai saat ini, adalah obrolan tentang sakitnya cinta. Entahlah. Mungkin karena aku mengalaminya lagi.

Keesokan harinya, aku jatuh sakit. Entahlah. Dari hari sebelumnya memang aku paksa kesehatanku. Tak disangka akan drop secepat ini. Terimakasih. Saat itu kamu mau menjagaku dan menjenguk di uks. Saat pulang sekolah, aku sudah merasa baikan. Aku masih sempat menemani temanku ke fotokopian. Tapi tetap saja, saat aku ingin pulang, lebih tepatnya les, kamu menjemputku. Aku tidak bisa mengelak lagi setelah kamu tiba-tiba memegang keningku. Sebenarnya, aku masih bisa memaksanya. Meski sedikit pusing yang ku rasa. Tapi kamu akhirnya mengantarku pulang ke rumah. Ingat?

Saat-saat aku bermain ke kelasmu? Apa masih ingat? Segala kejadian yang bagiku masih berkesan. Tidak tau bagimu bagaimana. Ingat? Saat kamu merangkulku sebelum berkeliling bersama teman-temanmu? Biarlah. Mungkin kamu sudah lupa.

Saat pertama kali kamu memberi gelangmu. Kamis. 11 April 2013. Masih ingat? Saat di sekret. Saat kamu memberitahu masalah temanmu itu. Valerie. Yang pada akhirnya, di pembicaraan yang lain dan kamu keluar dari sekret, aku sempat menangis karena aku tidak mau kehilangan kamu. Entahlah. Aku takut. Pulangnya? Di perjalanan, kita masih membicarakan hal yang sebenarnya tingkat keseriusan pembicaraan itu menyangkut hati dan masa depannya. Ingat? Saat kamu berjanji tidak akan mencari perempuan lain saat di perkuliahan nanti. Ah. Hanya janji yang tidak akan pernah ditepati. Perasaan seseorang tidak ada yang tau pasti kan? Apalagi perasaan orang lain. Untuk masa depan apalagi. Tidak bisa di tebak. Belum tentu juga bisa bertahan. Janji hanyalah janji...

Saat mempersiapkan pendakian gn. Lawu. Sabtu itu di rumah Rani. Masih ingat? Aku yang mencium dengan mencuri saat kamu tidak sadar. Ah. Sudahlah. Teringat kembali saat kamu memangku ku ketika bang Syahril ke sekolah.

14-18 April 2013. Pendakian Lawu yang membuat komunikasi kita tersendat. Kamu juga sedang UN saat itu. Doa tercurah untukmu. Pendakian itu penuh dengan kenanganku bersama yang lainnya.

Ingat saat aku sampai Depok lagi? Hari Jum’at, 19 April 2013. Senang sudah bisa mengabarimu lagi. Dan sekitar jam 3an. Kamu menculikku ke Tirta. Main bulutangkis. Meski aku hanya duduk menunggumu di pinggir lapangan. Karena kakiku yang masih sakit karena pendakian itu. Di tengah kamu bermain, kita menukar gelang. Ingat? Dan saat pulang, kau merangkulku. Entahlah. Aku merasa seperti pelantikan. Menjadi anak kecil yang sering terjatuh.

Ingat saat aku ulang tahun? Kamu diam. Entah. Aku sudah menduga, itu hanya ulahmu menjahiliku. Tapi kamu aktor yang hebat. Bermain sandiwara beberapa hari untuk mengerjaiku. Tidak lama. Tapi bagiku, sandiwaramu berhasil.

27 April 2013. Giliran anak DSB yang mengerjaiku. Mereka bilang, kamu kecelakaan. Entahlah. Aku yang tadinya di kurung di sekret dan memanjatnya, selelah mendengarnya langsung terjatuh. Dan memang, setelah itu siram-siraman di rumah Arum yang Arum sendiri hanya beda sehari dari ulang tahunku. Terimakasih buat anak DSB yang lain. Khususya buat boneka yang udah dikadoin.

Besok paginya, anak DSB mengisi pembukaan acara paskib. Dan sekitar jam 2an kamu datang ke sekolah. Hanya mengobrol sebentar. Dan. Foto kita berdua yang di Syafiq? Entahlah. Tidak tau masih ada atau tidak di anak itu. Dan habis itu, kau mengajaku yang ujungnya kita ke tempat les mu. Ah. Masa-masa itu. Sudahlah.

Ingat? Saat aku kembali ke uks? Senin. Entahlah. Tanganku dingin. Memang sebenarnya salahku. Memaksa kesehatan yang sebenarnya demi mengerjakan tugas. Sampai larut malam. Bahkan sampai tidak tidur. Sekembalinya ke kelas, sudah bisa tertebak siapa yang memasukkan boneka kecil itu. Tapi, yasudahlah.

Taukah kamu. Saat-saat kamu sudah tidak ke sekolah itu, aku merindukanmu. Hampir setiap hari, aku ingin bertemu. Ingat saat hari kamis di minggu yang sama setelah pemberian boneka itu? Kamu ke sekolah. Sayang. Aku latihan drama dadakan untuk ke esokan harinya. Jadi tidak banyak waktu untuk bertemu denganmu.

Jum’at setelah drama selesai. Akhirnya kita bisa bertemu. Mengobrol panjang lebar. Di sekolah. Yang setelah itu dilanjutkan di griya. Kita masih bisa bercanda. Kecupan dan cubitanmu di pipiku. Ah. Apa bisa aku mendapatkannya lagi? hanya harap yang tidak mungkin jadi kenyataan. Besoknya, Sabtu. Saat aku mentraktirmu. Saat pelukan itu. Saat menjadi adik kecil dan bermanja-manja denganmu. Ah. Hanya kenangan.

Selasa. Saat kamu mengajakku ke griya lagi, saat canda tawa itu terbentuk. Saat masa-masa indah yang. Hhh. Berat rasanya untuk melupakan itu semua. Jum’at, 10 Mei 2013. Aku latihan akustik. Pulangnya aku menunggu hujan. Entahlah. Sendirian di tengah hujan seperti malam itu membuat sesuatu yang beda. Aku tidak enak sebenarnya saat kamu menjemputku. Seperti terpaksa untuk mengantarku pulang. Tapi entahlah.

Dan setelah hari itu. Aku merasa sedikit menjauh darimu. Tidak ada kabar. Meski tidak lost contact dan masih bisa mention-mentionan, itu tidak berlangsung lama. Sayang, hubungan ini kandas di tengah jalan. 85 hari kita lalui bersama. Dan begitu banyak kenangan yang telah kau lukis dalam hati ini. Kalau seandainya kita masih bertahan, tepat hari ini, 22 Mei 2013, 3 bulan lamanya telah kita jalani. Tapi mau bagaimana lagi? Sudah begini adanya. Semua hanya tinggal kenangan. Yang masih tersimpan dalam hati.

Di kemudian hari mungkin dan pasti akan berbeda dengan sekarang. Dan janji yang sudah diberikan waktu itu hanya sebatas janji. Yang tidak pernah menjadi nyata. Seiring berjalannya waktu akan berubah dan merubah segalanya. Mungkin. Tidak ada yang pasti di dunia ini kecuali ketidakpastian itu sendiri.

Tapi, sampai detik ini...

Kenyataannya. Aku masih memiliki rasa itu. Rasa yang aku sendiri tidak tahu asalnya dan alasannya. Rasa yang mungkin hanya aku yang memilikinya sekarang. Berat memang. Untuk melepasmu sangatlah berat. Entah. Semua akan beda. Dan aku masih berusaha untuk merelakanmu. Hubungan ini akan sedikit atau bahkan berbeda sama sekali dari sebelumnya. Mengingat luka yang kamu ukir sangatlah sakit bagi hati ini.

Sampai detik ini aku mencoba untuk membuang perasaan itu padamu. Meski kamu pernah berkata, masih kakak adek, mungkin hanya sebentar. Mungkin akan berjalan lama. Entahlah. Tidak ada yang tau.

H-6 sebelum perpisahan. Jum’at, 24 Mei 2013. Aku sempat melepas penat bersama Indri dan kak Sito. Banyak kutipan yang sebenarnya kena di hati.

“Kan lo nggak tau jodoh lo siapa, jangan asal bilang bulan dan belom jodoh. Siapa tau, dia yang bakal ngelamar lo”. “Kalo emang bener-bener sayang, nggak bakal nyakitin. Biar dia yang sakit, asal pasangannya nggak sakit”.

Dan masih banyak rentetan kata-kata lain yang, hmm. Ah. Biarlah. Malamnya. Sms itu pun muncul. Sms yang isinya, kamu pengen ngulang dari tanggal 22 Februari karena kamu nggak mau kayak gini.

Entah apa yang ada di dalam pikiranmu. Aku tidak tau. Sebenarnya aku ingin membicarakannya langsung. Apa sebenarnya mau kamu, Kak? Kenapa kayak gini? Kenapa plin plan? Kenapa kamu ingin seperti dulu kalo kamu yang memutuskan hubungan kita?

Aku akui. Aku juga ingin sekali kembali ke masa itu bersamamu. Saat-saat bahagia, suka duka yang kita lalui bersama. Tapi aku butuh waktu. Waktu untuk melupakan perasaanku padamu. Karena asal kamu tau, sakit. Sakitnya luka yang kamu ukir di hatiku sangat perih.

Belum lagi temanku, yang suka membahas tentangmu. Ah. Sulit. Hanif, yang suka membuatku menangis, dia saja tau apa yang aku rasakan. Karena memang sedang bernasib sama. “Ngelupain orang yang kita sayang tuh berat, Win. Susah banget malah”. Kata-kata yang selalu terngiang darinya. Memang benar. Berat..

Sampai detik ini pun, aku masih belum bisa lepas dari perasaanku padamu. Entah sampai kapan aku harus berusaha. Sendirian. Mau aku perjuangkan perasaan ini sendirian? Sia-sia. Hanya membuang-buang tenaga. Buat apa mempertahankan perasaan yang dijalani hanya satu orang. Perasaan tak terbalas. Ah. Sama seperti dulu. Dan butuh setahun lebih untuk melupakannya. Tidak tau seberapa lama aku bisa melupakan perasaanku padamu. Dan bersikap seolah-olah tidak ada apapun diantara kita lagi.

Menyembuhkan luka di hati itu akan lama. Dan setelah sembuh, belum tentu akan seperti sedia kala.

Dan aku hanya bisa berharap, berusaha, dan berdoa, agar hubungan kita kedepannya membaik, Kak. Ukhwah itu harus dijaga. Iya kan? Tidak terbatas jarak, ruang, dan waktu..

Dan kenangan yang sudah kita buat, aku berharap bisa menambah lagi bersamamu. Dan semoga kita bisa menjaga kenangan dan hubungan yang telah terbentuk selama ini, Kak...


Impian setelah air mata
Ku percaya tak kan kalah dari angin hujan
Sampai doa ku mencapai langit cerah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar